Jumat, 19 November 2010

resensi buku



Judul         : Namaku Matahari
Penulis      : Remy Sylado
Penerbit    : Gramedia Pustaka Utama
Terbit       : I, Oktober 2010
Halaman   : 559
Harga       : Rp. 79.000

Meskipun sudah banyak sumber yang mengungkap kehidupan Mata Hari, namun sosoknya tetap misterius. Sebut saja fakta seputar kematiannya. Konon hingga kini tidak jelas dimana ia dikuburkan.

Hal yang jelas, ia pernah hadir pada masa Perang Dunia Ke-I. Kala itu ia menjadi agen rahasia untuk dua negara sekaligus (double agent), Jerman dan Perancis.

Dikisahkan, Mata Hari lahir di Leeuwardeng, Belanda pada tahun 1876. Kala itu ia masih memakai naman Margaretha Geertruida. Pada usia 18 tahun ia menikah dengan seorang opsir Belanda bernama Rudolf John MacLeod.

Setelah itu ia pindah ke Jawa, untuk mengikuti suaminya yang bertugas di sana, tepatnya di Ambarawa. Ketika berada di Jawa inilah Mata Hari belajar menari untuk pertama kalinya.

Dari situlah ia kemudian banyak mementasakan tarian Jawa. Bahkan pada periode berikutnya ia juga mulai menarikan tarian-tarian erotik di hadapan banyak orang. Tentu saja hal ini membuat ia semakin dekat dengan banyak kalangan, termasuk petinggi militer. Tidak sedikit petinggi milter yang kemudian tidur bersamanya.

Lewat apa yang dilakukan oleh Mata Hari, novel ini telah melakukan sebuah protes dan sindiran keras atas sikap hipokrit pihak penguasa, termasuk kalangan rohaniawan. Simak saja ketika Mata Hari menyatakan kesetujuanya untuk menarik erotik di hadapan penguasa dan kalangan rohaniawan Katolik maupun Kristen (halaman 183-185).

Dengan tarian erotiknya Mata Hari ingin melakukan sebuah pembalikkan. Artinya, dalam kondisi kultural yang menomorduakan perempuan, ia justru ingin menunjukkan bahwa pria dapat bertekuk-lutut di bawah daya tarik gerakan erotik tariannya, maupun dan gairah seksualitasnya.

Ini adalah sebuah simbol, meskipun secara kultural laki-laki lebih dominan ketimbang perempuan. Namun, di sisi lain--digambarkan melalui hubungan antara Mata Hari dengan pria yang berkencan dengannya--laki-laki adalah pihak yang justru dikuasai oleh perempuan.

Bahkan dengan caranya sendiri, Remy Syaldo, memperlihatkan bagaimana pria menjadi objek pelepas hasrat Mata Hari. Di sini terlihat bagaimana superioritas laki-laki seketika luntur tanpa perlawanan. Kelemahan leki-laki seakan ditelanjangi. Beginilah Remy Sylado mengkritik kultur patriarkal.

Sikap Mata Hari yang seakan membalaskan dendam kepada laki-laki bukan tanpa sebab. Hal itu terjadi karena sejak awal pernikahannya, ia sudah merasa ditindas oleh kekuasaan laki-laki, yakni dari suaminya sendiri. Ia menggambarkan suaminya sebagai sosok yang menakutkan, egois, dan gemar main perempuan.

Di sisi lain, Mata Hari, ditampilkan sebagai perempuan yang "melampaui" jamannya, dalam arti ia sanggup berpikir dan bertindak di luar kebiasaan. Bahkan secara terang-terangan ia menyatakan dirinya sebagai vrijdenker, atau pemikir bebas, yang karenanya ia mempertanyakan keberadaan Tuhan.

Novel ini dapat dikatakan sebuah reinterpretasi kisah Mata Hari di Indonesia. Penulis mengatakan demikian karena, hampir tiga perempat isi buku ini berisi perjalanan Mata Hari selama di Indonesia. Inilah yang membuat buku ini menarik bagi pembaca di Indonesia.
Nama:eka seftia damayanti
No    :09
kelas :XI-IPA2

Kamis, 11 November 2010

kepergianmu

terasa sunyi hidupku tanpa adanya diya yang dulu selalu menemaniku,menghiburku,menyemangatiku dan selalu ada saat aku membutuhkannya, kenapa sekarang diya lenyap dan hilang bak diterpa ombak pantai yang tak ada jejaknya lagi.dimana kah aku harus menemukanmu kembali.aku rindu kamu yang dulu kapan kamu kembali untukku lagi akankah kita bertemu lagi ataukah kita akan berpisah untuk selamanya dan tidak ada lagi jejak yang indah yang tertingal,,,,

Senin, 08 November 2010

Langkah hidupku

perjalanan hidup yang tercurah dari dalam hati
yang terukir dalam sebuah jejak-jejak langkah hidup yang pasti
yang berisi perjalanan hidup yang bergonta-ganti 
beriringan dengan bumi berotasi itulah jejak langkahku

Sabtu, 06 November 2010

Masa - masa di sekolah

ketika aku sudah mencopot atribut smpku aku berfikiran untuk masuk di SMAN 2 BOJONEGORO.pagi itu aku berangkt dari rumah menuju SMAN 2 bojonegoro untuk mendaftar.suasana sejuk dengan pemandangan yang rindang yang berasal dari pepohonan sekitar, bangunan yang sudah cukup tua tapi masih kelihatan kokoh itulah pemandangan / kesan pertama kali saya masuk di SMA N 2 BOJONEGORO.Begitu juga suasana riuh terdengar saat mulai Pendaftaran Siswa Baru di SMAN 2 BOJONEGORO. Ramai, berdesak-desakan dan tercium bau ketek hehehehe.orang pertama yang aku kenal saat pendaftaran adalah anak dari bumi kedungadem yaitu siska apriliana E.P(siska) dan neneng dwi takaranita (neneng) yang dulu teman satu kelasku dkelas x-6.dan ada 1 kejadian yang ngak bisa aku lupa pas aku daftar ulang tanpa sengaja aku melihat seorang anak yang juga melihat  aku,dia melihatku dengan mata melotot aku pun takut.ternyata setelah aku kenalan ma anak itu ngak nyangka anaknya baik dia ada virgi skrng  kelas xi-bahasa hehehe.
               hari pertama aku masuk sekolah untuk acara MOS,kupakai seragam MOS sesuai dengan ketentuan, perasaanku saat itu takut,gugup dan tegang,tanpa kusadari saat q didepan cermin kulihat diriku yang dlu masih kecil sekarang telihat dewasa,yang dulu masih smp dan sekarang sma,saat pertama masuk aku masuk kelas (X-6) berkenalan dengan  teman sebangkuku yaitu natasha devianti(sasha).saat MOS berlangsung sangat menakutkan bagiku karena kakak osis terlihat jahat-jahat semuanya,tidak seperti saat SMP yang tenang - tenang saja .banyak teman teman yang menangis karena dibentak-bentak saat sesi keamanan MOS.saat mengasikkan adalah saat acara balas dendam kepada osis seksi keamanan MOS,mereka harus mau dia apain aja sama peserta mos tapi dengan batas balas dendam yang sewajarnya.
               3 hari berlalu, hari-hari MOS yang amat sangat mendebar-debarkan dan menakutkan pun  berlalu. sekarang aku udah resmi jadi siswa di SMAN 2 BOJONEGORO.aku mulai mengenal teman,guru dari yang sabar sampai yang galak dan kakak-kakak kelas.teman yang paling akrap saat  di(X-6) adalah annida,siska,elsa,riris dan ririn mereka sangat baik padaku.kelasku sangat nyaman, asyik dan bersih sehingga kelasku mendapat penghargaan karena kebersihanya itu semua karena wali kelasku pak choirul anam.Teman sekelasku pun begitu kompak menjalankan tugas dari guru termasuk kompak saat ulangan hehehe.kelas ku pun juga mengadakan acara perpisahan untuk kelas (X-6) ditrawas tapi sayang aku ngak ikut dan aku rugi banget jadi sedih hikhikhik..... dan ada acara buka bersama dirumah salah satu teman saya yaitu angga aku sangat senang saat kerbersamaan itu.kenangan yang mendalam adalah saat menyanyi-menyanyi bersama saat jam kosong, saat makmun kentut dikelas kwakwakwa ngak ndue isin,,, dan yang paling ngak ku lupa adalah sebutanku di X-6 yaitu WBO meskipun bgitu tp lucu ko hehehehe .
                Perasaan ku pun berganti saat naik kelas XI, aku mulai beradaptasi dengan lingkungan baru dan pelajaran yang mulai terarah.Aku pun masuk jurusan yang aku ingini yaitu IPA.seneng banget rasanya bisa naik kelas, dapat teman baru, kelas yang baru, dan suasana mengajar yang baru juga. tapi sedihnya aku harus berpisah dengan beberapa kawan terdekatku waktu kelas X sedih hikhikhik.....tapi ngak papa karena disetiap pertemuan pasti ada perpisahan,dan dikelasku yang sekarang ini pun gak kalah asyikx temen-temen baik,lucu dan ngemesin aku sayang banget ma temen-temen ku (XI-IPA2) moga-moga kita jadi orang sukses,,,,aminnn.